Advertisements

Review Film Goosebumps (2015)

Bohong apabila saya tidak menaruh harapan meski hanya setitik pada film ini. Mengusung nama besar Goosebumps karya R.L Stine yang  menjadi salah satu buku paling laris pada era 90-an, saya berharap film ini benar-benar menghadirkan adegan yang membuat bulu kuduk saya merinding. Terlebih keberadaan Jack Black seakan-akan memberikan janji manis bahwa film ini akan semenarik Isyana Saraswati.

Goosebumps
Poster film Goosebumps (2015)

Berangkat Dari Buku Goosebumps

Ide yang ditawarkan oleh film ini sangat saya suka. Oh ya tentu saja, siapa sih yang tidak berharap makhluk-makhluk yang ada di dalam buku Goosebumps ini menjadi nyata?. Saya bukan penggemar Goosebumps, hanya sempat membaca satu seri nya saja dan itupun saya lupa judulnya yang intinya tentang seorang anak yang berubah menjadi lebah, namun memiliki harapan untuk melihatnya di layar lebar. Iklan goosebumps yang berseliweran di majalah Bobo kala itu dengan judul yang beraneka ragam, gambar sampul yang lumayan seram serta tagline untuk masing-masing judul yang tentunya membuat anak seumuran saya kala itu menjadi merinding. Membekaslah nama Goosebumps hingga saat ini di kepala saya. Membayangkan semua monster dan hantu Goosebumps yang masih melekat di benak saya menjadi nyata? oh jangan tanya lagi betapa gembiranya saya.

Penokohan yang Sangat Biasa

Mungkin pada 10 menit pertama, ketika semua tokoh diperkenalkan, saya masih merasakan hype di dada. Namun ketika inti cerita mulai dimainkan, ada banyak kejanggalan yang saya temukan yang pada akhirnya membuat hype tadi perlahan sirna. Bagaimana proses “terlepasnya” monster pada buku Goosebumps ke dunia nyata saja sudah janggal, cerita selanjutnya sudah jadi tidak menarik lagi. Penokohannya pun sangat sangat biasa. Seorang pemuda bernama Zach di sebuah kota yang baru ia huni, berkawan dengan girl next door, Hannah, dan seoarang pecundang di sekolah, Champ. Mudah ditebak, Zach akan menjadi pahlawan untuk kotanya. Champ si pecundang akan mendapatkan cinta gadis yang dulu menolaknya mentah-mentah karena menyelamatkannya dari monster. Kualitas akting para aktornya pun sangat standar, baik pemeran utama maupun pendukung, bahkan Jack Black pun terlihat amatir di film ini.

Upaya untuk menghadirkan humor sebagai bumbu cerita sempat membuat saya tertawa untuk beberapa adegan. Namun, sisanya seperti berkaca pada film Alvin and The Chipmunk, bukan lelucon untuk ukuran saya. Penonton di sekeliling saya seperti menikmati joke-joke yang ditawarkan, terlebih pada tokoh Champ yang jadi pusat humor, yang kualitas aktingnya membuat saya tersenyum geli.

Pada akhirnya, film ini memiliki ide yang brilian namun dieksekusi yang teramat sangat buruk. Saking buruknya eksekusi ide tersebut, saya tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Sangat disayangkan dengan nama besar Novel Goosebumps, film sadurannya hanya sekelas Alvin and The Chipmunk.

Advertisements