Advertisements
Langit Bali

Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Dalam Hening Nyepi 2017

oleh: Gde Sudika Pratama

“Dalam beberapa tahun terakhir, hari raya Nyepi di Bandara Ngurah Rai selalu dilalui dengan hujan dan guntur.”

Hari raya Nyepi diperingati setiap satu tahun sekali di bulan Maret atau April tiap tahunnya. Di tahun 2017 ini, hari Nyepi jatuh tepat pada tanggal 28 Maret. Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Umat Hindu yang berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam manusia dan alam semesta.

Dalam beberapa tahun terakhir, hari raya Nyepi di Bandara Ngurah Rai selalu dilalui dengan hujan dan guntur. Curah hujan tertinggi terakhir ketika Nyepi di Bandara Ngurah Rai tercatat 5.6 milimeter terjadi di tahun 2012.

Nyepi dimulai dari jam 06.00 WITA hingga keesokan harinya jam 06.00 WITA. Seluruh masyarakat di pulau Bali dilarang beraktifitas di luar rumah dan bagi umat Hindu wajib melaksanakan Catur Brata Penyepian. Catur Brata Penyepian terdiri dari Amati Geni yaitu tidak menyalakan api disimbolkan dengan tidak menyalakan lampu selama Nyepi. Amati Lelanguan yaitu tidak boleh melaksanakan kegiatan seperti berfoya-foya atau bersenang-senang, lalu Amati Lelungan yaitu tidak boleh berpergian, dan Amati Karya yaitu tidak boleh melakukan pekerjaan. Para pecalang masing-masing desa akan berjaga untuk memastikan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang ataupun orang yang berjalan-jalan agar tercipta suasana yang kondusif saat merayakan Nyepi. Bahkan sekarang saluran TV nasional pun tidak melakukan siaran di Bali selama hari raya Nyepi.

Selama perayaan Nyepi Bandara I Gusti Ngurah Rai ditutup selama 24 jam. Aktifitas pelayanan penerbangan di hari raya Nyepi hanya sebatas memberikan informasi kepada pesawat yang sedang melintas agar tidak terjadi blank area. Pertukaran data meteorologi harus tetap dilakukan meskipun tidak ada aktifitas penerbangan. Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar sebagai UPT yang melayani informasi meteorologi penerbangan mempunyai kewajiban untuk tetap melakukan diseminasi data meteorologi. Selama 24 jam di hari Raya Nyepi, Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar tetap melaksanakan tugasnya seperti pengamatan cuaca dan prakiraan cuaca.

“Selama hari raya Nyepi terjadi penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 33%. Ini bukti bahwa aktivitas manusia dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.”

– BMKG, 2013

Nyepi dan Kondisi Emisi Gas Rumah Kaca di Bali

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan penelitian mengenai penurunan emisi gas rumah kaca pada saat perayaan hari raya Nyepi 2013 di Pulau Bali. Penelitian BMKG dilakukan di lima daerah di Pulau Bali yaitu Denpasar, Bedugul, Karangasem, Singaraja dan Negara. Kesimpulannya, terjadi penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 33 %. Penurunan terbesar berasal di daerah Negara yang mencapai 80%. Ini bukti bahwa aktivitas manusia bisa meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Penelitian ini menggunakan dua metoda. Pertama, penelitian langsung di Denpasar dengan menggunakan alat digital Wolf Pack Area Monitor dan Continous Analyzer IRIS 4600. Alat ini mengukur konsentrasi gas rumah kaca per jam, dengan parameter untuk karbondioksida (CO2) dan nitrogendioksida (NO2).

Sedangkan metoda kedua diterapkan di empat daerah penelitian lainnya menggunakan teknik sampling flask sampler pada pukul 14.00 WITA saat pada hari raya Nyepi , dan analisis laboratorium untuk sampel menggunakan metode Gas Chromatography.

Pada Tahun 2015 BMKG juga melakukan penelitian hubungan konsentrasi karbonmonoksida (CO) dan suhu udara terhadap intervensi anthopogenik di tiga lokasi yaitu Denpasar, Bedugul dan Singaraja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi CO dan suhu di Denpasar, Bedugul dan Singaraja pada saat hari raya Nyepi menunjukkan adanya hubungan linier positif, yang berarti antara konsentrasi CO dan suhu udara terjadi pengaruh yang saling menguatkan, di mana jika terjadi peningkatan suhu udara maka konsentrasi CO juga akan meningkat dan sebaliknya. Pada hari-hari di luar hari raya Nyepi hubungan antara keduanya terlihat tidak konsisten, diduga karena adanya pengaruh dari faktor lain terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Penelitian ini belum mengukur seberapa besar energi listrik dapat dihemat dengan padamnya listrik yang dilakukan secara sukarela dan serempak oleh sebagian besar penduduk Bali, yang ujungnya tentu mengurangi konsumsi BBM dan batubara. Budaya yang didukung oleh Agama Hindu yang dianut oleh penduduk Bali terbukti telah memberikan kontribusi untuk penyelamatan lingkungan.

Sumber :
Kharisma Aprilina, dkk. “Hubungan Konsentrasi Karbon Monoksida (CO) dan Suhu Udara Terhadap Intervensi Anthopogenik”. Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17 No 1, pp 53-60, 2016.
https://balipedia.id/sejarah-nyepi/
http://www.kompasiana.com/dharmawangsa/bmkg-hari-rayanyepi-terbukti-menurunkan-emisi-gas-rumah-kaca/

~~~~

Tulisan di atas bersumber dari METEODROME Volume 1 Nomor 3 Maret 2017 yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas 1 Ngurah Rai – Denpasar.

Advertisements

Komentar