Advertisements

Supaya Festival Musik Tidak Begitu-Begitu Saja

“Festival musik ini ‘menculik’ para penontonnya”, kalau tidak salah, begitu bunyi dari kalimat pengantar artikel tentang sebuah festival musik misterius. Sayangnya saya lupa media mana yang mengangkat cerita itu, dan tidak/belum pernah menemukan artikelnya lagi. Para penonton dijemput menggunakan kendaraan, yang entah bagaimana detailnya, mereka tak bisa melihat ke arah mana kendaraan itu menuju. Dan di hutan tempat berlangsungnya acara, jurnalis yang menulis artikel itu pun hanya bisa mereka-reka letak hutan tempat acara itu berlangsung. Ponsel dimatikan atau dilarang sama sekali sedari awal. Ada beberapa panggung kecil atau bahkan tanpa panggung pada beberapa titik di mana para musisinya tampil, dan tanpa rundown sama sekali. Para penonton bisa berjalan ke arah mana saja tanpa informasi apapun untuk mendapati para artis sedang atau bahkan telah selesai penampilannya. Mungkin memang cukup merepotkan tapi jelas ini adalah penyegaran untuk bentuk festival musik kebanyakan yang konvensional.

Electric Forest Festival
Electric Forest Festival, nylon.com

Agak sulit untuk menerapkan hal tersebut di Indonesia. Namun setidaknya akhir-akhir ini mulai marak festival di hutan, bumi perkemahan, atau tempat terbuka yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sebut saja Jazz Gunung dari sisi yang lebih populer atau RRREC Fest in the Valley yang lebih ngindies. Saya meyakini bahwa para penggagas event musik di sini pasti terus memikirkan dan mencari alternatif baru sebagai konsep suatu acara musik yang tidak kaku. Dalam setahun terakhir saja jumlah ‘festival di hutan’ sendiri ada berapa, 5-6 event? Mungkin akan sulit untuk menggebrak dengan konsep ‘baru’ atau mengadopsi konsep alternatif dari luar mengacu pada beragam faktor semisal band yang sesuai dengan konsep dan pemilihan lokasi, dsb. Satu-satunya yang bisa menjadi faktor pendorong mungkin hasrat besar kaum muda urban untuk merasakan pengalaman baru yang nyeleneh dan unik.

Ide Alternatif

Jika festival bertema khusus semacam wasteland, steampunk/gothic, nerdapolooza, dan pirate-themed mungkin hanya baru bisa terwujud dalam sekadar tema pesta di club, atau untuk kalangan tertentu, maka yang paling mungkin dalam waktu dekat adalah sebagai berikut.

  • festival musik di tengah hutan dengan lampu-lampu spektakuler (oke, ini tampak mewah),
  • festival musik bawah laut (yang ini tak usah dianggap serius)
  • festival musik folk selama 18 hari (sepertinya kita punya sumber daya yang mencukupi untuk hal ini)
  • festival musik di arena bowling (bisa ditukar dengan olahraga lainnya, bulu tangkis, mungkin)
  • festival musik dan ganja (tampaknya harus benar-benar rahasia, dan saya siap diundang)
  • festival musik di teras rumah (Islandia punya banyak ide yang syegar memang (video di atas?), dan ada juga di Michigan)
  • festival musik di bawah gletser (barangkali bisa digantikan dengan goa kalau di sini).

Meskipun tampak masih cukup jauh dalam jangkauan dan kita tak punya gurun pasir, saya pribadi sih tetap menantikan festival-festival bertema tertentu, khususnya bertemakan dunia Mad Max, dan Taman Nasional Baluran mungkin akan jadi venue yang tepat.

~~

Referensi lebih jauh mengenai festival-festival semacam ini:

 

UPDATE

Norway’s Ice Music Festival di bawah ini cukup menarik.

Advertisements

Komentar